Kena Gerd dan Anxiety? Jangan Sering Googling!

Ya, kamu jangan sering-sering Googling ketika kamu menderita Gerd yang disertai anxiety atau kecemasan. Sebab, dengan Googling alias mencari tahu di mesin pencari Google, penyakitmu bukannya membaik, tapi malah memburuk. Ujung-ujungnya lari ke Unit Gawat Darurat alias UGD.

Itu berdasarkan pengalaman saya dan juga banyak orang yang menderita penyakit maag dengan penuh sugesti nggak jelas ini.

Sedikit saya akan bercerita tentang kekonyolan saya terkait penyakit Gerd dan anxiety. Sekitar tahun 2016 atau 2017 lah kira-kira, saya saat itu baru selesai operasi pengangkatan batu empedu di sebuah rumah sakit swasta di Cipondoh, Tangerang Selatan.

Setelah beres operasi pencernaan atau digestif dengan metode laparaskopi untuk mengangkat empedu, saya pulang. Perlu diketahui bahwa operasi laparaskopi adalah proses pembedahan dengan sayatan kecil sehingga proses pemulihannya tidak terlalu lama. Luka di perut cepat kering karena yang dibedah sangat kecil. Berbeda dengan bedah umum yang sayatannya cukup besar sehingga proses pemulihannya bisa berminggu-minggu.

Ketika berada di rumah, memang sakit akibat batu empedu sudah mulai berkurang, bahkan lama-lama kelamaan hilang. Namun sakit lambung yang berada di bagian tengah masih terasa. Dokter bedah digestif pun memberikan obat bukan hanya untuk luka operasi, tetapi juga lambung.

Sakit lambung itu disertai dengan sensasi lain. Jantung berdebar, cemas, keringat dingin, kedinginan, badan sering gemetar atau tremor dan lain sebagainya. Kondisi itu berlangsung berhari-hari pasca-operasi.

Akhirnya, karena tidak tahan, saya kembali ke dokter bedah saya, dan dokter kemudian memberi resep obat maag. Namun ternyata obat maag tidak mempan. Perut masih sakit dengan sensasi lain yang disebutkan tadi.

Beberapa hari kemudian, saya kembali ke dokter. Namun kali ini dokter pencernaan yang lain. Saya kemudian disarankan untuk endoskopi. Klinik di kantor saya pun menyarankan demikian. Bahkan, ia memberi surat pengantarnya.

Akhirnya, dokter dari rumah sakit rujukan kantor menjadwalkan endoskopi. Saya lupa lagi jadwalnya tanggal berapa dan bulan berapa.

Setelah itu, saya kembali ke rumah dalam keadaan perut masih sakit plus sensasi lain yang menyertainya.

Ketika saya sedang tiduran, saya melihat pergelangan tangan saya sedikit bengkak. Tiba-tiba saya panik. Sebab, hasil pencarian saya di Google, salah satu penderita penyakit jantung adalah tangan bengkak.

Sontak kepanikan saya pun kian menjadi-jadi. Bahkan, saya meminta bantuan orang lain untuk melarikan saya ke UGD rumah sakit. Namun setibanya di UGD, tiba-tiba saya merasa baik. Saya pun menjalani pemeriksaan EKG untuk mengetahui kondisi detak jantung saya. Hasilnya, dokter menyebutkan bahwa jantung saya normal. Saya hanya menderita asam lambung.

Namun penjelasan dokter itu tidak membuat saya yakin. Saya terus merasa cemas, takut, dan khawatir. Saya masih percaya hasil pencarian di Google mengenai penyakit itu. Akibatnya, hampir 20 hingga 30 kali saya pergi ke UGD dan lagi-lagi dokter pencernaan hanya menyebutkan bahwa itu asam lambung atau gerd.

Bahkan, untuk meyakinkan diagnosa itu, saya sampai pergi ke dokter jantung di sebuah rumah sakit swasta bertaraf internasional di Tangerang. Saya pun menjalani pemeriksaan EKG treadmill. Lagi-lagi hasilnya jantung saya normal.

Dokter jantung pun sedikit menambahkan “diagnosanya” bahwa saya kurang iman. Duh, sudah bayar mahal-mahal, dokter jantung itu hanya menyebutkan saya kurang iman. Tapi memang betul juga sih heheh.

Nah, penjelasan dokter jantung itu membuat saya cukup lega. Namun hanya bertahan beberapa hari. Kecemasan kembali muncul. Bahkan, saya pernah minta dirawat hingga tiga hari di sebuah rumah sakit di kampung halaman saya di Tasikmalaya.

Usai dirawat dan pulang ke rumah, keesokan harinya saya kembali minta dibawa ke UGD karena cemas itu tadi. Hingga akhirnya dokter menyarankan bahwa saya dibawa ke psikiater.

Hingga akhirya saya pun menjalani terapi di dua psikiater. Pertama di dokter jiwa di kampung halaman, dan selanjutnya dilanjutkan di psikiater rumah sakit swasta internasional. Setelah menjalani terapi dengan obat selama beberapa bulan, akhirnya saya mulai membaik. Kecemasan mulai berkurang.

Bahkan, beberapa bulan kemudian, saya melepaskan obat dari psikiater dan hidup normal. Ya, saya sebut hidup normal tapi tidak 100 persen sembuh dari gerd. Namun setidaknya saya bisa berdamai dengan penyakit ini.

Dari cerita singkat saya tadi, ada beberapa hikmah yang bisa diambil.

1. Jangan Googling ciri-ciri penyakit mematikan

Jika kamu masih masih merasa cemas, jangan coba-coba mencari ciri-ciri sebuah peyakit mematikan di Google. Jika ingin tahu soal penyakit, langsung saja konsultasi ke dokter, terutama untuk obatnya dan pencegahannya.

Boleh googling, tapi hanya sebatas mencari tips makanan untuk asam lambung atau mencari tahu bagaimana mengatasi asam lambung naik dari pengalaman penderitanya. Ya seperti saya hehe.

2. Perbanyak ibadah

Ini sangat penting. Bagi kamu yang beragama Islam perbanyaklah shalat sunat dan jangan tinggalkan shalat wajib. Rajin-rajin membaca Al Quran dan berserah diri kepada Tuhan. Hanya itu cara yang bisa dilakukan secara non medis demi menenangkan jiwa yang cemas. Jangan lupa juga bersedekah.

3. Jika perlu, datang ke psikiater

Jika dengan cara perbanyak ibadah belum mempan juga, maka saya sarankan kamu pergi ke psikiater. Tapi dokternya spesialis psikosomatik yang berkaitan dengan pencernaan. Dokter yang direkomendasikan adalah dr Andri di RS Omni Internasional. Dia tidak menerima pasien dengan gangguan jiwa (orang gila), melainkan psikosmatis dari pencernaan.

You May Also Like

About the Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *